TARAKAN – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar dikhawatirkan memiliki dampak menurunnya kinerja usaha di Kalimantan Utara. Dampak ekonomi imbas depresiasi nilai tukar rupiah perlu perhatian serius dari pemerintah.
Hal itu disampaikan oleh pengamat ekonomi Kaltara, sekaligus Anggota Forum Komunikasi Akademisi Penulis Populer Kebijakan Bank Indonesia, Dr. Ana Sriekaningsih. Ia menilai, pelemahan rupiah bisa memiliki dampak terhadap beban biaya bahan baku sektor hulu.
“Jika terjadi pelemahan Rupiah, maka beban biaya bahan baku sektor hulu meningkat dan akan ikut berimbas ke bisnis hilir industri. yang terjadi adalah melemahnya produktivitas dan daya saing industri. Tentunya itu dapat menambah beban operasi usaha serta menekan pertumbuhan penjualan pasar,” terangnya.
Menurut Dr. Ana, pemerintah harus segera lakukan melakukan intervensi melalui kebijakan moneter bersama pemangku kepentingan lainnya, agar dampak pelemahan Rupiah tidak menghambat kinerja investasi.
“Untuk dampak pelemahan Rupiah jika tidak segera diatasi, kinerja usaha menurun dan dapat menghambat investasi dan perluasan usaha. Terutama sektor usaha yang memiliki ketergantungan pada kebutuhan impor bahan baku,” jelasnya.
Jika sudah merambat ke industri tekstil, maka hal itu akan berimbas pula pada dunia usaha mikro kecil menengah di Kaltara. Naiknya harga bahan baku akan beriringan dengan naiknya harga jual di pasaran, sehingga dikhawatirkan dapat mengakibatkan melemahnya daya beli masyarakat.
“Secara nasional sektor manufaktur padat karya seperti tekstil dan garmen paling terdampak akibat situasi melemahnya Rupiah. Tekanannya sudah terjadi karena menurunnya market share pasar domestik dan penurunan daya saing ekspor. Untuk UMKM kita di Kaltara yang berhubungan dengan sektor tersebut, pasti nantinya akan ikut terdampak juga,” kata Dr. Ana.
Sementara itu berdasarkan data BPS Kaltara, kinerja ekspor komoditi pada Sektor Non Migas, Hasil Industri, Hasil Tambang dan Hasil pertanian pada kuartal II di bulan Mei tercatat mencapai 280,99 juta US Dolar.
Pada Mei 2024, total ekspor komoditi melalui pelabuhan di Kaltara mencapai US$ 280,99 juta, mengalami peningkatan sebesar 100,94 persen dibanding kondisi April 2024 yang mencapai US$ 139,84 juta. Sedangkan Nilai impor Provinsi Kalimantan Utara Mei 2024 mencapai 115,70 juta Dolar.(*)










Discussion about this post