TARAKAN – Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tarakan berencana menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) lanjutan untuk mengevaluasi hasil kunjungan kerja terkait Program Makanan Bergizi (MBG).
Fokus utama rapat ini adalah mengatasi tantangan pemenuhan kebutuhan bahan baku, khususnya untuk mendukung operasional Satuan Pelayanan Penemuan Gizi (SPPG) di seluruh dapur yang menjalankan program ini di Tarakan.
Kunjungan kerja yang dilakukan ke Dapur SMA Muhammadiyah Tarakan menjadi dasar pembahasan. Dipimpin oleh Ketua Komisi II DPRD, Simon Patino, kunjungan ini melibatkan perwakilan dari Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, serta Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Tarakan.
Tim meninjau langsung operasional dapur yang menjadi salah satu pusat penyediaan makanan bergizi bagi pelajar di kota tersebut.
Anggota Komisi II DPRD, dr. Yuli Indrayani, mengungkapkan kekhawatiran utama yang muncul dari kunjungan tersebut, yakni potensi kelangkaan bahan baku untuk Program MBG.
Ia menyoroti bahwa ketika semua dapur SPPG beroperasi secara serentak, pasokan bahan baku seperti telur dan ayam lokal berisiko tidak mencukupi.
“Dari hasil kunjungan, kami melihat ada tantangan besar terkait sumber bahan baku. Jika semua dapur menjalankan menu yang sama, misalnya ayam atau telur, dikhawatirkan pasokan di pasar tidak akan cukup. Ini bisa memicu kenaikan harga, kelangkaan, bahkan inflasi,” ujar Yuli.
Menurut Yuli, pihak SPPG telah meminta dukungan dari sektor ketahanan pangan, pertanian, dan peternakan untuk memastikan ketersediaan bahan baku.
Ia mencontohkan bahwa permintaan serentak untuk telur atau ayam dapat mengganggu stabilitas harga di pasar lokal, yang pada akhirnya berdampak pada masyarakat luas.
Untuk mengatasi masalah ini, Komisi II berencana memanggil sejumlah pemangku kepentingan dalam RDP lanjutan.
“Kami akan undang Dinas Pertanian, Peternakan, Kesehatan, Ketahanan Pangan, dan pihak SPPG, termasuk yayasan pengelola, untuk membahas solusi konkret. Kami ingin memastikan pasokan bahan baku aman dan program ini berjalan lancar,” jelas Yuli.
Selain isu bahan baku, kunjungan ke Dapur SMA Muhammadiyah Tarakan juga mengungkap permasalahan terkait kondisi fisik dan alur kerja dapur.
Yuli menjelaskan bahwa dapur yang digunakan saat ini merupakan bagian dari fasilitas sekolah, dengan ruangan yang terbagi-bagi dan banyak area terbuka.
Kondisi ini menyebabkan alur kerja, mulai dari penerimaan bahan baku, pengecekan, penyimpanan, hingga pemrosesan, menjadi tidak efisien.
“Alur kerja di dapur masih bolak-balik karena ruangannya terpisah-pisah. Ini meningkatkan risiko kontaminasi makanan. Kami menyarankan pihak dapur untuk memperbaiki alur kerja agar lebih higienis dan efisien,” ungkapnya.
Yuli menambahkan bahwa kondisi fisik dapur yang belum ideal dapat memengaruhi kualitas makanan yang dihasilkan. Oleh karena itu, evaluasi mendalam terhadap infrastruktur dapur akan menjadi salah satu agenda penting dalam RDP mendatang.
Program Makanan Bergizi merupakan salah satu inisiatif strategis Pemerintah untuk meningkatkan gizi anak sekolah, yang pada akhirnya diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan generasi muda.
Program ini melibatkan penyediaan makanan sehat dan bergizi di sekolah-sekolah, dengan SPPG sebagai unit operasional utama.
Namun, keberlanjutan program ini sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku yang stabil dan infrastruktur yang memadai. Tanpa solusi yang komprehensif, program ini berisiko menghadapi kendala, baik dari sisi logistik maupun dampak ekonomi di pasar lokal.
RDP yang direncanakan Komisi II DPRD Tarakan akan menjadi forum penting untuk merumuskan langkah strategis. Selain membahas pasokan bahan baku, rapat ini juga akan mengevaluasi efektivitas kerja sama antarinstansi dan mencari solusi untuk optimalisasi infrastruktur dapur.
Yuli berharap hasil dari RDP dapat menghasilkan rekomendasi yang actionable, seperti penguatan kerja sama dengan petani dan peternak lokal, pengembangan sistem logistik yang lebih terintegrasi, dan perbaikan tata kelola dapur SPPG.
“Kami ingin program ini benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi anak-anak kita tanpa menimbulkan dampak negatif di sektor lain,” tegasnya.
Program Makanan Bergizi di Tarakan menjadi cerminan komitmen pemerintah daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pendidikan dan kesehatan. Namun, keberhasilannya bergantung pada kolaborasi lintas sektor dan keterlibatan aktif semua pihak.
Dengan langkah evaluasi yang dilakukan DPRD, diharapkan program ini dapat berjalan lebih optimal, memberikan dampak positif bagi pelajar dan stabilitas ekonomi lokal. (*)
Reporter : Arif Rusman








Discussion about this post