JAKARTA – Arus konsolidasi politik pasca-Pemilu 2024 semakin terlihat di kalangan aktivis muda, dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menjadi magnet bagi sejumlah eks relawan dan kader dari kubu lawan.
Mantan Koordinator Nasional Relawan AMIN 2024, Ricky Valentino, baru saja resmi bergabung dan dipercaya menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PSI, diikuti oleh puluhan koordinator wilayah, daerah, hingga tingkat kabupaten yang sebelumnya aktif di jaringan relawan tersebut.
Langkah ini tidak hanya melibatkan eks kader Partai NasDem dari berbagai daerah, tetapi juga menandai munculnya poros baru yang berfokus pada energi progresif anak muda.
Fenomena migrasi politik ini, sebagaimana disebut dalam diskusi publik, mencerminkan dinamika partai politik di tengah transisi kekuasaan nasional.
Pelantikan pengurus DPP PSI periode 2025-2030 baru saja digelar akhir pekan lalu, di mana nama-nama segar seperti Ricky Valentino dan Ahmad Ali, mantan Wakil Ketua Umum Nasdem masuk dalam susunan kepengurusan.
Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep, yang melantik jajaran tersebut, menekankan visi partai untuk memperkuat kaderisasi akar rumput sebagai fondasi pergerakan ke depan.
Hingga kini, setidaknya ratusan eks relawan AMIN dari Lombok Utara hingga Lebak telah menyatakan kesetiaan baru mereka kepada PSI, mengubah jaringan lama menjadi roda penggerak eksternal partai berlambang gajah itu.
Hamjadid, mantan Sekretaris Jenderal Relawan AMIN 2024 sekaligus eks Ketua Badan Pekerja Politik dan Umum (Bappilu) NasDem Lombok Utara, menjadi salah satu figur kunci dalam gelombang ini.
Dalam pernyataannya Senin lalu (13/10/2025), ia menegaskan bahwa solidaritas jaringan relawan tetap utuh, kini diarahkan untuk membangun basis PSI di tingkat lokal.
“Kami tetap solid. Kini saatnya kami melangkah bersama PSI untuk membentuk energi baru politik anak muda yang progresif dan terbuka. Kami mengikuti langkah strategis yang telah ditunjukkan Komando Ricky Valentino,” ungkap Hamjadid.
Menurutnya, transisi ini lahir dari kebutuhan akan platform yang lebih inklusif, di mana perbedaan latar belakang politik tidak lagi menjadi penghalang, melainkan kekuatan penggerak.
Sementara itu, Ahmad Ali, yang juga menjabat sebagai eks Ketua Dewan Pembina Relawan AMIN 2024, mengajak seluruh simpatisan untuk merangkul semangat persatuan di tengah keragaman.
“Kita memasuki ruang baru untuk Indonesia yang menjadi milik bersama dan tanggung jawab semua. Tidak perlu lagi berdebat siapa yang paling baik, tapi siapa yang bisa menyatukan keragaman dan perbedaan politik di negeri ini,” katanya.
Pernyataan Ali ini seolah menjadi panggilan bagi eks kader NasDem lain, seperti Bestari Barus, yang ikut meramaikan arus migrasi politik ini.
Di media sosial, isu ini pun ramai dibahas, dengan netizen menyebutnya sebagai “domino effect” yang dipicu pengaruh kuat dari kalangan elite Solo, termasuk spekulasi keterlibatan figur senior seperti Joko Widodo sebagai “Bapak J” di Dewan Pembina PSI.
Bagi PSI, yang gagal lolos ambang batas parlemen pada Pemilu 2024, bergabungnya tokoh-tokoh ini menjadi angin segar.
Partai yang dipimpin Kaesang ini kini tak hanya mengandalkan citra millenial, tetapi juga jaringan lintas partai yang solid, dengan fokus pada isu-isu seperti reformasi birokrasi dan pemberdayaan pemuda.
Analis politik menilai, langkah ini bisa mempercepat ekspansi PSI menjelang Pemilu 2029, meski tantangan internal Nasdem seperti retaknya kohesi pasca Pilpres masih menjadi faktor pendorong utama migrasi tersebut.
Di balik euforia konsolidasi, pertanyaan mendasar tetap menggantung: apakah poros politik muda ini mampu bertahan di tengah fluktuasi arena nasional, atau justru menjadi korban dinamika kekuasaan yang lebih besar?
Yang jelas, gelombang ini telah mengubah peta politik Indonesia menjadi lebih cair, di mana loyalitas ideologis kian bergeser ke arah pragmatisme generasi baru. (*)
Reporter : Arif Rusman












Discussion about this post