TARAKAN – Walikota Tarakan dr. Khairul menyambut baik penyelenggaraan job fair yang untuk pertama kalinya digelar di Grand Tarakan Mall. Acara yang merupakan kolaborasi Pemerintah Kota Tarakan dengan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) ini berhasil menghadirkan 11 perusahaan dengan serapan tenaga kerja mencapai 501 orang.
“Ini adalah bentuk kolaborasi yang baik antara pemerintah dan HIPMI dalam upaya menekan angka pengangguran di Kota Tarakan,” ujar dr. Khairul saat membuka acara job fair tersebut pada Minggu (29/6/2025).
Pemilihan lokasi di Grand Tarakan Mall dinilai strategis karena mudah diakses masyarakat. Sebelumnya, job fair biasa diselenggarakan di Kantor Dinas Tenaga Kerja atau Gedung Serbaguna Pemkot Tarakan.
Walikota Tarakan juga memaparkan bahwa sektor usaha menjadi kontributor terbesar Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Tarakan, mencapai 87 persen dengan mayoritas berasal dari Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Bahkan, 93 persen masyarakat Tarakan bekerja di sektor UMKM.
“Data menunjukkan pertumbuhan UMKM yang luar biasa. Dari 7.000 UMKM terdaftar di periode pertama kepemimpinan, kini menjadi 28.000 pada tahun 2023 atau meningkat empat kali lipat,” papar dr. Khairul.
Peningkatan signifikan ini didorong oleh dua faktor utama: dukungan pemerintah dan dampak pandemi COVID-19 yang menyebabkan banyak pemutusan hubungan kerja (PHK), sehingga masyarakat beralih mengelola usaha mandiri.
Salah satu peserta job fair, iqbal mengaku menargetkan dua perusahaan yaitu PT EPSINDO dan Sumber Kalimantan Abadi. Ia optimis dengan kemampuan yang dimilikinya dapat memenuhi persyaratan basic kedua perusahaan tersebut.
“Saya berharap bisa diterima di salah satu dari kedua perusahaan ini. Pengalaman kerja saya di dua perusahaan sebelumnya mudah-mudahan bisa menjadi nilai tambah,” ungkap Iqbal.
Pria yang mengaku kesulitan mencari pekerjaan di Tarakan meski telah menyebar banyak lamaran ini mengapresiasi kolaborasi HIPMI dan Disnaker. Menurutnya, job fair memberikan peluang besar bagi pencari kerja dan keluarganya.
“Jika 500 peserta mendapat pekerjaan, dampaknya akan dirasakan keluarga masing-masing. Ini akan membantu perekonomian masyarakat,” jelasnya.
Meski antusias, Iqbal mengungkapkan beberapa kendala yang dihadapi. Informasi job fair menurutnya terlambat diterima karena kurang maksimalnya penyebaran di media sosial.
“Saya baru dapat informasinya malam sebelum acara. Mudah-mudahan ke depan informasi bisa disebarkan lebih luas dan lebih awal,” sarannya.
Namun ia mengapresiasi langkah Disnaker yang menyediakan petugas khusus untuk pembuatan AK1 (Kartu Kuning) di lokasi job fair. “Ini sangat membantu peserta yang belum memiliki kartu kuning,” pungkasnya.
Iqbal berharap job fair dapat diselenggarakan secara berkelanjutan, tidak hanya sekali saja, mengingat besarnya antusiasme masyarakat dan dampak positif yang dihasilkan (UL)








Discussion about this post