TARAKAN – Di tengah meningkatnya kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan, termasuk Kota Tarakan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tarakan terus memperkuat upaya pencegahan dan mitigasi bencana.
Kepala BPBD Kota Tarakan, Yonsep, mengatakan selain melakukan penanganan dan penindakan langsung di lapangan ketika terjadi karhutla, pihaknya juga terus memberikan edukasi kepada masyarakat sebagai langkah pencegahan.
Salah satu sasaran edukasi tersebut adalah kalangan pelajar melalui program DUA PENA atau Duta Siswa Peduli Bencana. Program ini merupakan inovasi BPBD Kota Tarakan yang menyasar lingkungan sekolah, khususnya siswa tingkat SD dan SMP, dengan tujuan meningkatkan pengetahuan serta kepedulian pelajar terhadap berbagai potensi bencana.
Yonsep menjelaskan, pelajar dinilai memiliki peran penting dalam menyebarluaskan pengetahuan mengenai kebencanaan, termasuk bagaimana mencegah terjadinya karhutla sejak dini.
“Selain kita melakukan penanganan langsung di lapangan, kita juga melakukan edukasi kepada masyarakat. Salah satunya melalui anak-anak sekolah lewat program DUA PENA. Kita ingin sejak dini mereka memahami bagaimana cara melakukan mitigasi dan mencegah terjadinya bencana,” ujar Yonsep.
Menurutnya, edukasi kepada pelajar diharapkan tidak hanya memberikan pemahaman mengenai tindakan saat bencana terjadi, tetapi juga membangun kepedulian terhadap lingkungan. Termasuk memberikan pemahaman mengenai bahaya membakar lahan secara sembarangan yang dapat memicu terjadinya karhutla.
“Kita berharap anak-anak ini bisa menjadi bagian dari edukasi di lingkungan masing-masing. Mereka bisa menyampaikan kepada keluarga dan masyarakat sekitar tentang pentingnya menjaga lingkungan, tidak melakukan pembakaran sembarangan, serta mengetahui apa yang harus dilakukan apabila terjadi bencana,” tambahnya.
BPBD Kota Tarakan berharap penguatan edukasi kebencanaan melalui lingkungan sekolah dapat terus dilakukan secara berkelanjutan. Dengan keterlibatan pelajar, masyarakat diharapkan semakin memiliki kesadaran untuk melakukan pencegahan bencana, sehingga risiko karhutla maupun bencana lainnya dapat diminimalkan. (RF)








Discussion about this post