BALIKPAPAN – Kongres XIII Forum Badan Eksekutif Mahasiswa se-Kalimantan (BEM SEKA) telah resmi digelar di Universitas Mulia, Balikpapan, Kalimantan Timur, pada 17–21 Juni 2025. Kongres yang dihadiri delegasi dari 25 perguruan tinggi seluruh Kalimantan ini berhasil menghasilkan sejumlah keputusan strategis, namun diwarnai kontroversi klaim kepemimpinan ganda.
Dalam sidang pleno yang berlangsung selama lima hari, kongres berhasil menetapkan Andi Muhammad Akmal dari Politeknik Pertanian Negeri Samarinda sebagai Koordinator Pusat BEM SEKA periode 2025-2026. Keputusan ini ditetapkan melalui mekanisme pemungutan suara yang dihadiri delegasi dari lima provinsi di Kalimantan: Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Utara.
Selain penetapan koordinator pusat, kongres juga menetapkan sejumlah koordinator bidang isu strategis dan secara menunjuk Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang, Palangkaraya sebagai tuan rumah Kongres BEM SEKA XIV tahun 2026.
Sepanjang forum berlangsung, delegasi mahasiswa terlibat dalam diskusi mengenai berbagai permasalahan regional yang memerlukan perhatian serius. Isu-isu utama yang menjadi fokus pembahasan meliputi :Pendidikan, kesehatan, Sosial, Ekonomi dan Lingkungan. Para delegasi sepakat untuk mengangkat isu-isu tersebut ke tingkat nasional melalui jejaring BEM seluruh Indonesia dan koordinasi dengan pemerintah daerah masing-masing provinsi.
Namun, kongres yang semula berjalan lancar ini kemudian diwarnai kontroversi setelah munculnya klaim sepihak dari Danil Huda, mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat. Pasca-pengumuman kemenangan Andi Akmal secara resmi, Danil Huda menyatakan dirinya sebagai “Koordinator Pusat BEM SEKA versi lain.”
Klaim ini menuai penolakan keras dari mayoritas delegasi yang hadir. Menurut mereka, seluruh rangkaian kongres telah berjalan sesuai dengan mekanisme dan aturan yang berlaku tanpa ditemukan pelanggaran administrasi yang signifikan.
“Forum telah berjalan sesuai dengan mekanisme demokrasi yang disepakati bersama. Hasil pemungutan suara sudah jelas dan sah. Klaim sepihak seperti ini justru mencederai semangat demokrasi dan merugikan banyak delegasi dari berbagai kampus yang telah berpartisipasi dengan baik,” ungkap salah satu delegasi yang enggan disebutkan identitasnya.
Munculnya forum tandingan dinilai berpotensi memecah konsolidasi gerakan mahasiswa lintas wilayah Kalimantan yang selama ini telah terjalin solid. Para delegasi menyayangkan situasi ini dan berharap tidak akan mengganggu agenda-agenda strategis BEM SEKA ke depan.
Hingga laporan ini dibuat, belum ada klarifikasi resmi dari Danil Huda atau pihak-pihak yang mendukung klaimnya. Sementara itu, hasil kongres resmi telah disahkan dalam berita acara dan akan menjadi landasan hukum bagi seluruh program kerja dan gerakan advokasi BEM SEKA periode mendatang.
Kongres BEM SEKA merupakan forum tertinggi mahasiswa Kalimantan yang digelar setiap tahun untuk menetapkan arah kebijakan dan kepemimpinan organisasi tingkat regional. (UL)












Discussion about this post