TARAKAN – Lapangan Utama Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Tarakan menjadi saksi momen khidmat. Ribuan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) berdiri berdampingan dengan jajaran pejabat dan staf, mengikuti doa bersama untuk keselamatan dan kebaikan negeri.
Senin (1/9/2025), suasana haru dan penuh makna menyelimuti lapangan sederhana itu, seolah menegaskan bahwa doa bisa menjadi jembatan menuju harapan, bahkan di balik jeruji.
Kegiatan ini digelar sebagai tindak lanjut dari Surat Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjenpas) Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Republik Indonesia Nomor: PAS-UM.01.01-363 tertanggal 31 Agustus 2025.
Arahan tersebut mengamanatkan seluruh jajaran pemasyarakatan di Indonesia untuk menyelenggarakan doa bersama, sebuah langkah simbolis yang mengajak semua pihak merenung dan memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Pagi itu, Kepala Lapas Kelas IIA Tarakan, Jupri, tampak berdiri di barisan depan, didampingi pejabat struktural dan staf. Doa dipimpin oleh Ustadz Chandra Kurniawan dari Forum Imam Masjid Kota Tarakan, yang dengan penuh khusyuk memandu ribuan jiwa memanjatkan harapan.
Suara doa yang mengalun lembut, bercampur dengan semilir angin pagi, menciptakan suasana yang begitu syahdu.
Bagi Jupri, doa bersama ini bukan sekadar seremoni. Ia melihatnya sebagai momen muhasabah, sebuah kesempatan untuk merenung dan memperbaiki diri.
“Kegiatan ini adalah wujud ketaatan kami terhadap arahan Dirjenpas. Kami berharap, doa ini menjadi pengingat bagi kita semua, baik warga binaan maupun petugas, untuk selalu memohon keselamatan dan kebaikan, tidak hanya untuk lingkungan Lapas, tetapi juga untuk Indonesia tercinta,” ujarnya.
Doa bersama ini bukan hanya soal memanjatkan permohonan, tetapi juga tentang menanamkan semangat cinta tanah air.
Di tengah keberagaman latar belakang warga binaan, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa persatuan dan kesatuan bangsa tetap harus dijaga, bahkan di dalam tembok-tembok lapas.
“Kami ingin menumbuhkan rasa cinta terhadap negeri ini, sekaligus memperkuat ikatan persatuan, baik di antara warga binaan maupun dengan petugas,” tambah Jupri.
Di lapangan, raut wajah para warga binaan menunjukkan keterlibatan yang tulus. Ada yang menunduk khusyuk, ada pula yang sesekali mengusap air mata.
Bagi mereka, momen ini bukan hanya soal doa, tetapi juga tentang harapan untuk masa depan yang lebih baik—baik untuk diri mereka sendiri maupun untuk bangsa.
Doa bersama ini menjadi cerminan bahwa di tengah keterbatasan, semangat untuk berkontribusi bagi kebaikan negeri tetap hidup.
Dari Tarakan, doa-doa itu mengalir, menyatu dengan harapan serupa dari berbagai lapas di seluruh Indonesia. Sebuah pengingat bahwa, di mana pun berada, setiap insan memiliki peran dalam mendoakan dan membangun negeri yang lebih baik. (*)
Reporter : Arif Rusman










Discussion about this post