TARAKAN – Wali Kota Tarakan, Khairul, meminta pembelajaran Bahasa Tidung di lingkungan sekolah kembali dimaksimalkan sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan bahasa dan budaya daerah di tengah perkembangan zaman.
Menurut Khairul, bahasa daerah tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga merupakan bagian dari identitas dan warisan budaya yang perlu dikenalkan kepada generasi muda sejak usia dini.
Program muatan lokal Bahasa dan Budaya Tidung sendiri telah diperkuat Pemerintah Kota Tarakan sejak 2022. Saat itu, Pemkot Tarakan menggelar Workshop Muatan Lokal Bahasa dan Budaya Tidung tingkat PAUD, SD, dan SMP. Selanjutnya, pada 2023 dilakukan diseminasi kurikulum muatan lokal Tidung sebagai bagian dari penguatan kearifan lokal di lingkungan pendidikan. Sementara penerapan pembelajaran Bahasa Tidung di sekolah mulai berjalan sejak 2024.
Khairul mengatakan, penguatan pembelajaran Bahasa Tidung menjadi semakin penting di tengah derasnya arus informasi dan budaya asing yang masuk melalui internet dan media sosial.
“Kita harus kembali memaksimalkan pembelajaran bahasa daerah, khususnya Bahasa Tidung. Jangan sampai anak-anak kita lebih mengenal budaya dari luar, sementara bahasa dan budaya daerahnya sendiri justru semakin ditinggalkan,” ujar Khairul.
Ia menilai perkembangan teknologi tidak dapat dihindari, namun generasi muda perlu memiliki fondasi budaya yang kuat agar mampu menyaring berbagai pengaruh yang datang dari luar.
Menurutnya, mengenalkan Bahasa Tidung kepada pelajar bukan berarti membatasi anak untuk mempelajari bahasa asing. Sebaliknya, penguasaan bahasa asing tetap penting, namun harus berjalan beriringan dengan kemampuan generasi muda dalam mengenal dan mempertahankan identitas budaya daerah.
“Anak-anak kita boleh dan harus mengikuti perkembangan zaman, boleh menguasai bahasa asing, tetapi jangan sampai lupa dengan bahasa daerahnya. Karena kalau bukan generasi muda yang meneruskan, siapa lagi yang akan menjaga bahasa dan budaya Tidung ini,” katanya.
Khairul juga mendorong agar pembelajaran Bahasa Tidung tidak hanya dilakukan melalui teori di dalam kelas, tetapi dikemas dengan metode yang lebih menarik dan dekat dengan kehidupan pelajar. Pembelajaran dapat dikaitkan dengan seni, cerita rakyat, adat istiadat, permainan tradisional, hingga penggunaan Bahasa Tidung dalam kehidupan sehari-hari.
Sebelumnya, Pemkot Tarakan juga telah menegaskan bahwa bahasa dan budaya Tidung yang masuk dalam muatan lokal merupakan salah satu langkah untuk melestarikan kebudayaan daerah, mengingat masyarakat Tidung merupakan salah satu suku asli Kota Tarakan.
Melalui penguatan pembelajaran tersebut, pemerintah berharap Bahasa Tidung tidak hanya bertahan sebagai bagian dari pelajaran di sekolah, tetapi juga tetap digunakan dan dikenal oleh generasi muda dalam kehidupan sehari-hari. (RF)








Discussion about this post