Tarakan — Wali Kota Tarakan, Khairul, menghadiri pembukaan sekaligus technical meeting Kompetisi Debat Demokrasi ke-4 tingkat SMA/SMK/MA se-Kota Tarakan yang diselenggarakan oleh Bawaslu Kota Tarakan yang berkolaborasi dengan Kesbangpol Kota Tarakan dan diselenggarakan di Gedung Serba Guna Pemkot Tarakan. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat.
Kegiatan ini digelar sebagai wadah edukasi politik bagi pelajar, sekaligus upaya meningkatkan pemahaman demokrasi sejak dini. Melalui kompetisi debat ini, penyelenggara berharap muncul generasi muda yang kritis dan aktif dalam menyuarakan kepentingan publik, sekaligus memicu peningkatan jumlah pemilih pemula dalam pesta demokrasi mendatang.
Wali Kota Khairul menjelaskan bahwa pelaksanaan kegiatan tersebut berangkat dari evaluasi terhadap tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilu. Ia mengungkapkan bahwa meski angka partisipasi pemilih di Tarakan cukup baik, namun masih perlu terus didorong.
Khairul menyebutkan bahwa pada pemilu sebelumnya, partisipasi pemilih mencapai 78,43 persen. Dari total 169.900 pemilih, sekitar 133.000 warga datang ke TPS. Sementara pada pemilu berikutnya, jumlah daftar pemilih meningkat menjadi sekitar 192.000 orang, namun angka partisipasi berkisar pada rata-rata 70 persen.
Menurutnya, kesadaran masyarakat dalam menyalurkan hak pilih masih harus terus diperkuat. Ia menilai, munculnya berbagai kritik atau tuntutan publik terhadap representasi di lembaga legislatif maupun eksekutif sering kali bertentangan dengan kenyataan bahwa sebagian masyarakat tidak ikut menggunakan hak pilihnya.
“Padahal saat memilih, banyak yang tidak ikut memilih. Ini menjadi persoalan,” ujar Khairul.
Sementara itu, kegiatan juga diisi penyampaian materi oleh Yakobus Malyantor Iskandar, selaku Ketua Bawaslu Provinsi Kaltara. Ia menegaskan bahwa Bawaslu tidak hanya berperan dalam pengawasan dan penanganan pelanggaran, namun juga bertanggung jawab melakukan langkah-langkah pencegahan.
Yakobus menjelaskan bahwa sosialisasi menjadi instrumen strategis dalam upaya mencegah pelanggaran pemilu. Menurutnya, metode sosialisasi yang paling efektif sejauh ini adalah melalui kegiatan debat pelajar. Ia menilai, kegiatan tersebut mampu menciptakan ruang edukasi politik sejak usia remaja dan melahirkan calon pengawas pemilu generasi muda.
Ia juga mencontohkan, melalui pelaksanaan debat mahasiswa oleh Bawaslu, muncul konsep penguatan dalam penanganan pelanggaran, dari bentuk rekomendasi hingga ditetapkan sebagai keputusan yang lebih kuat.
“Harapan kami, kegiatan ini bukan hanya sekadar seremonial, tetapi dapat melahirkan konsep-konsep yang berguna dalam pengawasan pemilu di masa mendatang,” tegas Yakobus.
Melalui kompetisi debat demokrasi ini, penyelenggara berharap pemahaman siswa mengenai politik dan pemilu semakin kuat, sehingga dapat mendorong peningkatan partisipasi pemilih pemula dalam pemilu mendatang.
(RF)









Discussion about this post