TARAKAN – Sektor perbankan di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) menunjukkan ketangguhan pada September 2025, dengan pertumbuhan kredit yang mencapai 55,67 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), meskipun Dana Pihak Ketiga (DPK) mengalami kontraksi sebesar -4,49 persen (yoy).
Capaian ini menjadi penopang utama bagi ekspansi ekonomi daerah, di tengah dinamika likuiditas yang menantang.
Berdasarkan data Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Kaltara, kontraksi DPK utamanya dipengaruhi oleh penurunan pada komponen giro dan deposito, masing-masing sebesar -6,17 persen (yoy) dan -22,49 persen (yoy).
Namun, komponen tabungan justru mencatat pertumbuhan positif sebesar 3,79 persen (yoy), mencerminkan kepercayaan masyarakat yang masih terjaga terhadap instrumen simpanan sederhana di tengah ketidakpastian ekonomi.
Di sisi penyaluran, kredit perbankan tetap menjadi motor penggerak pertumbuhan. Seluruh jenis penggunaan kredit menunjukkan ekspansi. Kredit modal kerja tumbuh 32,81 persen (yoy), kredit investasi melonjak 131,75 persen (yoy), dan kredit konsumsi naik 9,95 persen (yoy).
“Pertumbuhan kredit yang kuat ini mendukung pemulihan sektor riil, terutama investasi yang menjadi katalisator utama,” terang rilis resmi KPw BI Kaltara.
Secara sektoral, industri pengolahan mendominasi penyaluran kredit dengan pangsa 26,89 persen dan pertumbuhan mencengangkan 153,85 persen (yoy), diikuti sektor rumah tangga dengan pangsa 23,76 persen dan pertumbuhan 9,95 persen (yoy).
Total outstanding kredit pada periode tersebut mencapai Rp 5,58 triliun, dengan alokasi terbesar ke sektor perdagangan besar dan eceran sebesar Rp2,44 triliun.
Namun, penyaluran kredit ke Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) justru terkontraksi -1,01 persen (yoy), menandakan tantangan aksesibilitas bagi pelaku usaha kecil di daerah perbatasan.
Meski demikian, risiko kredit secara keseluruhan tetap terkendali. Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross tercatat rendah di level 0,95 persen, jauh di bawah ambang batas 5 persen yang ditetapkan regulator.
Khusus untuk UMKM, kualitas kredit juga terjaga dengan NPL sebesar 3,56 persen, menunjukkan manajemen risiko yang efektif oleh perbankan daerah.
KPw BI Kaltara menekankan bahwa intermediasi perbankan ini menjadi fondasi bagi stabilitas finansial regional.
Di tengah kontraksi DPK, bank-bank di Kaltara diharapkan terus mengoptimalkan channeling kredit ke sektor produktif, termasuk UMKM, untuk mendorong inklusi keuangan.
Upaya sinergi dengan pemerintah daerah dan pelaku usaha diharapkan dapat membalikkan tren kontraksi UMKM, sekaligus memperkuat daya saing ekonomi Kaltara menuju akhir tahun 2025.
Dengan pertumbuhan kredit yang solid, prospek ekonomi daerah tetap cerah, meski tetap waspada terhadap faktor eksternal seperti fluktuasi suku bunga global. (*)
Reporter : Arif Rusman












Discussion about this post