TARAKAN – Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) menjadi waktu yang cukup rawan terhadap penyebaran dis informasi atau berita hoaks di Indonesia. Sehingga dalam hal ini memicu potensi missinformasi yang dialami masyarakat.
Untuk itu Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Tarakan mengelar dialog dan deklarasi semangat pemilu damai dalam memerangi penyebaran berita palsu (hoaks) pada Selasa malam (13/2/2024) yang bertempat di gedung silver Radar Tarakan.
Ketua PWI kota Tarakan, Andi Muhammad Rizal menyampaikan, momentum pemilu cukup krusial dan rawan terhadap peredaran infomasi palsu sehingga diharapkan peran jurnalis mampu menangkal berita hoaks yang dapat menyebabkan missinformasi masyarakat. Selain itu, pentingnya peran media dalam menyajikan informasi yang akurat dan bertanggung jawab.
“Dengan melihat besarnya potensi missinformasi di tahun politik ini kami berkomitmen untuk berkomitmen atas pemberitaan yang seimbang dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memilah informasi yang benar dari yang hoaks.
Dialog publik ini juga menjadi ajang diskusi antara insan pers, untuk saling bertukar pandangan dan ide tentang bagaimana memastikan pemilu berjalan dengan damai dan kondusif,”ujarnya, (14/2).
“Profesionalisme wartawan teruji dalam pemilu, apalagi tidak lama lagi kita menyambut Pilkada. Tentu kita akan tetap mengambil jalan sesuai dengan aturan yang berlaku, yakni UU Pers, Kode Etik Jurnalistik dan Kode Prilaku Wartawan. Terutama dalam menghadapi tantangan penyebaran berita palsu yang dapat memicu konflik di masyarakat,”sambungnya.
Dikatakannya, dalam deklarasi tersebut tercatat 37 wartawan se- Kota Tarakan yang hadir melakukan penandatanganan deklarasi bersama.
Meski diakuinya, saat ini cukup sulit menangkal missinformasi 100 persen mengingat masifnya informasi yang beredar di media sosial. Kendati demikian, dengan peran media cukup memberi pengaruh besar dalam meluruskan informasi yang beredar.
“Memang saat ini begitu banyak berita yang beredar di media sosial, meski tidak bisa menangkal secara menyeluruh tapi setidaknya jurnalis bersama masyarakat dan pemerintah bisa bersama-sama melawan penyebaran berita palsu yang dapat mengganggu proses demokrasi,”ungkapnya.
Ia berharap di tahun politik ini media dapat menjadi garda terdepan dalam menangkal isu-isu yang mengancam kondusifitas dan dapat lebih menyadarkan pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban dalam menghadapi proses pemilihan umum.(*)











Discussion about this post