TARAKAN – Di ujung Indonesia, di mana perbatasan dan pulau-pulau terpencil Kalimantan Utara (Kaltara) menyimpan tantangan geografis, Telkomsel menyalakan semangat kemerdekaan melalui konektivitas digital. Dengan misi “Merdeka Sinyal di 3T” (Tertinggal, Terdepan, Terluar), Telkomsel menghadirkan akses telekomunikasi dan layanan digital di daerah-daerah yang selama ini terisolasi, membuka peluang baru bagi masyarakat untuk terhubung dengan dunia.
Hingga kini, Telkomsel telah mendirikan sekitar 100 BTS 4G/LTE di wilayah 3T Kaltara, menjangkau daerah seperti perbatasan Indonesia-Malaysia di Nunukan hingga pulau terluar seperti Sebatik.
“Wilayah 3T punya tantangan besar, seperti medan sulit dan akses transportasi terbatas. Tapi, ini adalah panggilan untuk memajukan Indonesia,” ungkap, Manager Network Operations and Productivity Telkomsel Tarakan, Zulkifli Farma.
Tantangan terbesar adalah mobilisasi perangkat BTS ke lokasi terpencil. Di tengah keterbatasan listrik dan infrastruktur, Telkomsel bekerja sama dengan BAKTI Kementerian Komunikasi dan Informatika serta pemerintah daerah untuk memastikan BTS tetap beroperasi.
“Kami ingin masyarakat di pelosok Kaltara merasakan kebebasan berkomunikasi, seperti semangat kemerdekaan itu sendiri,” tambah Zulkifli.
Telkomsel tak hanya membangun menara, tetapi juga menanamkan literasi digital melalui program InternetBAIK. Program ini mengajarkan prinsip penggunaan internet yang Bertanggung Jawab, Aman, Inspiratif, dan Kreatif (BAIK) di sekolah dan kampus Kaltara.
“Kami ingin generasi muda cakap digital, menciptakan konten positif, dan terhindar dari dampak negatif internet,” jelas Zulkifli.
Selain itu, Telkomsel Digital Campus Ecosystem di Universitas Borneo Tarakan menjadi wujud komitmen Telkomsel dalam program CSR Telkomsel Jaga Cita.
Inisiatif ini mendukung mahasiswa untuk berinovasi dalam ekosistem digital yang inklusif, memperkuat semangat generasi muda Kaltara untuk bersaing di era digital.
Kehadiran sinyal 4G/LTE di wilayah 3T telah mengubah kehidupan masyarakat. Pelaku UMKM kini bisa memasarkan produk secara online, pelajar mengakses pendidikan daring, dan komunitas terhubung dengan informasi global.
Telkomsel mengukur dampak ini melalui meningkatnya jumlah pengguna layanan jaringan di daerah-daerah terjangkau BTS.
“Akses sinyal membuka peluang ekonomi digital, dari jualan online hingga inovasi lokal,” ujar Zulkifli.
Meski jaringan 5G belum direncanakan untuk wilayah 3T dalam waktu dekat, fokus Telkomsel pada 4G/LTE tetap menjadi langkah besar.
“Kami menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Yang terpenting, konektivitas hadir untuk semua,” tambahnya.
Dengan 100 BTS 4G/LTE dan program literasi digital, Telkomsel tak hanya menghadirkan sinyal, tetapi juga harapan bagi masyarakat Kaltara.
Dari desa terpencil di Malinau hingga pulau terluar di Sebatik, “Merdeka Sinyal” menjadi simbol kebebasan untuk terhubung, berinovasi, dan bermimpi besar. Telkomsel membuktikan, tak ada wilayah yang terlalu jauh untuk dijangkau dalam semangat memajukan Indonesia. (*)
Reporter : Arif Rusman












Discussion about this post