TARAKAN- Selain melakukan Rakor, SAR Tarakan juga melakukan latihan gabungan bersama dengan sejumlah unsur terkait lainnya dalam melakukan penanganan bencana pesawat jatuh di peraiaran Tarakan, yang dilakukan di area pelabuhan Polairud Polda Kaltara yang berada di Keluruhan Juata Laut.
Direktur Kesiapsiagaan Pembina Utama Muda Noer Isrodin Muchlisin S.Pd.,M.M., yang turut hadir dalam acara simulasi jatuhnya pesawat Bintang Air, menyampaikan bahwa siklus secara umum SAR, jika tidak ada kejadian maka tetap siaga dalam waktu 24 jam. Dan yang kedua adalah mempersiapkan kesiapsiagaan seluruh unsur baik alat maupun SDM.
“Termasuk yang kita simulasikan hari ini, kebetulan yang kita ambil adalah jatuhnya pesawat sipil, tetapi yang kita mainkan adalah sistem yang berjalan,”ujarnya.
Ia juga melanjutkan jika Sistem SAR sendiri jika mendapatkan informasi dari Airnav maka kita akan sampaikan ke seluruh potensi atau sumber daya yang menangani hal tersebut. Seperti dari unsur TNI/POLRI, Pemerintah, Masyarakat serta semua yang memiliki unsur SAR akan di kerahkan untuk menangani unsur darurat, dan hal ini yang kita latihkan pada kegiatan simulasi hari ini.
“Program seperti ini merupakan program yang sifatnya wajib dilakukan oleh Basarnas satu kali dalam setahun, dari tortal 43 kantor Basarnas di seluruh Indonesia wajib melakukan kegiatan simulasi seperti ini,” tegasnya.
Tentunya hal ini sebagai bentuk kesiapsiagaan SAR serta menjaga SDM yang dimiliki SAR dalam menjalankan tugas. Dan yang paling penting adalah bagaimana menjalin koordinasi, komunikasi, dan jejaring dengan seluruh stokeholder, dimana urusan SAR ini tidak dapat dilaksanakan Basarnas secara mandiri, apalagi dengan luas wilayah yang luas, makam hal ini harus dilakukan secara bersama-sama.
“Dengan adanya sumber daya yang memiliki kemampuan, dan alut, nantinya kita bisa sama- sama dalam menyelsaikan tugas, dengan endingnya melakukan sesuai dengan protap yang ada,” jelasnya.(*)













Discussion about this post