TARAKAN – Kelompok transportasi masih dominan sebagai penyumbang deflasi terbesar di Tarakan pada Desember 2020. Sektor angkutan udara mencatatkan deflasi sebesar 0,20 persen. Sementara itu penyumbang inflasi tertinggi pada bulan Desember 2020 terdapat pada kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,38 persen.
Data BPS menyebut, inflasi Tarakan dipengaruhi oleh kenaikan indeks harga pada kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,25 persen, kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,62 persen, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,17 persen, kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,04 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,00 persen, kelompok rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,00 persen, kelompok pendidikan sebesar 0,00 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,00 persen.
Sedangkan deflasi di Kota Tarakan dipengaruhi oleh penurunan indeks harga pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar -1,48 persen, kelompok transportasi sebesar -1,39 persen dan kelompok pakaian dan alas kaki sebesar -0,01 persen.
Jika kelompok makanan, minuman dan tembakau diperinci, maka inflasi kelompok bahan makanan pada pada Kota Tarakan bulan Desember 2020 sebesar 1,68 persen, deflasi tahun kalender sebesar -0,13 persen dan mengalami deflasi tahun ke tahun sebesar -0,13 persen.
Pada bulan Desember 2020, Kota Tarakan terjadi inflasi sebesar 0,13 persen, inflasi tahun kalender 1,15 persen dan inflasi tahun ke tahun sebesar 1,15 persen. Sementara itu, untuk bulan Desember 2019 terjadi inflasi sebesar 1,09 persen, inflasi tahun kalender sebesar 1,47 persen dan inflasi tahun ke tahun sebesar 1,47 persen. Untuk bulan Desember 2018 terjadi inflasi sebesar 1,60 persen, inflasi kalender sebesar 5,00 persen dan inflasi tahun ke tahun sebesar 5,00 persen.
Dari 90 kota pantauan IHK nasional, Bulan Desember 2020 yaitu sebanyak 87 kota mengalami inflasi dan 3 kota lainnya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terdapat pada kota Gunung Sitoli sebesar 1,87 persen dan inflasi terendah terdapat pada kota Tanjung Selor sebesar 0,05 persen. Sedangkan deflasi tertinggi terdapat pada kota Luwuk sebesar -0,26 persen dan deflasi terendah terdapat pada kota Ambon sebesar -0,07.
Sementara itu kondisi kota-kota lain yang berada di Pulau Kalimantan di luar kota Tarakan. Inflasi tertinggi terjadi pada kota Sintang sebesar 0,98 persen, kota Banjarmasin sebesar 0,83 persen, kota Singkawang sebesar 0,63 persen, kota Kotabaru sebesar 0,63 persen, kota Palangkaraya sebesar 0,47 persen, kota Tanjung sebesar 0,42 persen, kota Pontianak sebesar 0,28 persen, kota Balikpapan sebesar 0,25 persen, kota Samarinda sebesar 0,24 persen, kota Sampit sebesar 0,17 persen, dan kota Tanjung Selor sebesar 0,05 persen. (*)









Discussion about this post