TARAKAN – Sistem Pembayaran Bank Indonesia (SPBI) di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) terus menunjukkan performa prima sepanjang September 2025, dengan transaksi melalui BI-Fast mencatat pertumbuhan pesat sebesar 67,10 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Capaian tersebut menjadi sinyal positif bagi inklusi keuangan digital di wilayah perbatasan, meski transaksi BI-RTGS mengalami kontraksi ringan.
Berdasarkan data terkini Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Kaltara, layanan SPBI termasuk BI-Fast, BI Real Time Gross Settlement (BI-RTGS), dan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) telah berjalan efisien, aman, andal, serta lancar di lima kabupaten/kota utama, yakni Tarakan, Bulungan, Nunukan, Malinau, dan Kabupaten Tana Tidung (KTT).
“Stabilitas ini menjadi fondasi bagi transaksi keuangan yang inklusif dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar rilis resmi KPw BI Kaltara.
Nilai transaksi BI-Fast pada September 2025 mencapai Rp 3,26 triliun, melonjak tajam dari periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ini mencerminkan adopsi cepat masyarakat dan pelaku usaha terhadap pembayaran ritel real-time, yang memfasilitasi transfer antarbank dengan biaya rendah dan kecepatan tinggi.
Sebaliknya, nilai transaksi BI-RTGS tercatat Rp 932,39 miliar, mengalami kontraksi -16,40 persen (yoy).
Penurunan ini diduga dipengaruhi oleh migrasi sebagian transaksi besar ke kanal digital lainnya, meski tetap menjaga likuiditas sistem secara keseluruhan.
Sementara itu, ekosistem pembayaran non-tunai semakin matang, terlihat dari lonjakan pengguna Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Kaltara.
Per Agustus 2025, jumlah pengguna QRIS mencapai 126.243, naik 4.806 pengguna baru dibandingkan akhir Desember 2024 yang berjumlah 121.437.
Peningkatan ini sejalan dengan upaya BI dalam mendorong digitalisasi UMKM dan transaksi sehari-hari, khususnya di sektor perdagangan eceran dan pariwisata daerah.
KPw BI Kaltara menekankan bahwa keberhasilan SPBI ini tidak lepas dari sinergi dengan perbankan dan pemerintah daerah.
Di tengah tantangan aksesibilitas geografis, inovasi seperti BI-Fast dan QRIS diharapkan terus mempercepat inklusi keuangan, mendukung target nasional transisi ke ekonomi digital.
Dengan tren pertumbuhan itu, prospek sistem pembayaran di Kaltara diproyeksikan semakin kuat menjelang akhir 2025, sekaligus menjadi pendorong utama bagi daya saing regional. (*)
Reporter : Arif Rusman












Discussion about this post