TARAKAN – Rangkaian puncak pelarungan Padaw Tuju Dulung pada perayaan Iraw Tengkayu XIV tahun ini di Kota Tarakan, dimeriahkan dengan sajian tari kolosal yang memukau. Penampilan ini menjadi salah satu daya tarik utama, dengan menghadirkan tiga tarian dengan filosofi mendalam yang menggambarkan hubungan manusia dengan alam, sesama, dan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Budayawan Suku Tidung Tarakan, Datu Norbek, menjelaskan bahwa tari kolosal ini terdiri dari tiga bagian dengan sumber inspirasi yang berbeda.
“Bagian pertama adalah Tari Majun, bersumber dari joget Melayu Tidung. Nama Majun sendiri merujuk pada minuman penghangat tubuh yang biasa dikonsumsi pada malam hari,” ujar Datu Norbek, Minggu (12/10/2025).
Bagian kedua, lanjutnya, adalah Tari Dindang Gambus yang mengacu pada kesenian jepin dengan irama khas yang disebut kinsat.
Nama gambus diambil dari alat musik tradisional yang mengiringi tarian ini. Sementara bagian ketiga, Tari Sarung Kuku, terinspirasi dari mitologi Tidung kuno sebelum masuknya Islam, mengisahkan tokoh-tokoh mistis, termasuk Dewa Sarung Kuku yang konon memiliki kuku bersarung.
Ketiga tarian ini tidak hanya memukau secara visual, tetapi juga sarat makna. Menurut Datu Norbek, Tari Majun menggambarkan hubungan manusia dengan alam, Tari Dindang Gambus mencerminkan hubungan antarmanusia, dan Tari Sarung Kuku merefleksikan hubungan manusia dengan keyakinan kepada Tuhan.
“Ketiga filosofi ini dirangkum menjadi satu penampilan yang utuh,” tambahnya.
Penampilan tari kolosal ini melibatkan 157 penari, dengan rincian 108 penari pada bagian pertama, 32 penari putra-putri pada bagian kedua, dan 17 penari pada bagian ketiga.
Para penari berasal dari pelajar SMA se-Kota Tarakan serta anggota Sanggar Budaya Tradisional Paguntaka, yang terdiri dari mahasiswa dan pekerja.
Datu Norbek menyebutkan bahwa persiapan tari kolosal ini memakan waktu dua bulan dengan jeda libur satu minggu.
“Materi tari setiap tahun berbeda, meski konsep dasarnya tetap sama. Rumah tari atau koreografinya selalu diperbarui,” ungkapnya.
Koreografi dan aransemen musik digarap oleh Sanggar Budaya Tradisional Paguntaka. Musik pengiring diambil dari lagu-lagu tradisional seperti Majun, Dindang Gambus, dan Sarung Kuku, yang diaransemen ulang sesuai kebutuhan tarian.
“Lagu-lagunya memang lagu lama, tapi aransemennya disesuaikan untuk mengiringi tarian,” jelas Datu Norbek.
Penampilan tari kolosal ini sukses memikat perhatian masyarakat yang hadir dalam puncak perayaan Iraw Tengkayu XIV.
Dengan kostum warna-warni dan gerakan yang dinamis, tarian ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkuat identitas budaya Suku Tidung.
“Iraw Tengkayu tahun ini terasa lebih meriah dengan adanya tari kolosal. Semoga tradisi ini terus dilestarikan,” ujar salah seorang penonton, Ani, warga Tarakan.
Perayaan Iraw Tengkayu XIV ini menjadi bagian penting dalam menjaga warisan budaya, sekaligus memperkenalkan kekayaan tradisi Tidung kepada generasi muda dan wisatawan yang hadir. (*)
Reporter : Arif Rusman










Discussion about this post