TARAKAN – Tokoh adat dan budayawan Tidung Kota Tarakan, Datu Norbeck, menilai kegiatan Seminar dan Lokakarya Dongeng Bermuatan Budaya Lokal Kalimantan Utara menjadi wadah yang tepat untuk menggali, mendokumentasikan, serta memperkenalkan sejarah dan kekayaan budaya suku-suku lokal kepada masyarakat luas.
Kegiatan yang diselenggarakan Komunitas Juru Cerita bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Timur dan Perpustakaan Kota Tarakan tersebut menjadi salah satu langkah untuk menjaga warisan leluhur agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Datu Norbeck yang merupakan pendiri sekaligus pimpinan Sanggar Budaya Tradisional (SBT) Pagun Taka menyambut baik pemanfaatan lokakarya sebagai ruang untuk mengangkat cerita-cerita sejarah dan kebudayaan daerah, termasuk kebudayaan suku Tidung yang memiliki beragam tradisi, adat istiadat, kesenian, serta nilai-nilai kehidupan masyarakat.
Menurutnya, cerita yang diwariskan secara turun-temurun perlu mendapatkan ruang dokumentasi dan penyampaian yang lebih luas. Melalui kegiatan seperti ini, pengetahuan para tokoh adat dan pelaku budaya dapat dihimpun menjadi cerita yang menarik, sehingga lebih mudah dipahami oleh masyarakat, terutama generasi muda.
“Melalui lokakarya seperti ini, kita memiliki kesempatan untuk menceritakan kembali sejarah dan kebudayaan yang dimiliki masyarakat lokal. Bukan hanya budaya Tidung, tetapi juga berbagai suku yang ada di Kalimantan Utara. Cerita-cerita tersebut perlu didokumentasikan agar generasi muda mengetahui asal-usul, tradisi, serta nilai-nilai yang diwariskan oleh para leluhur,” ujarnya.
Ia menilai, penyampaian sejarah melalui dongeng dapat menjadi pendekatan yang menarik karena kebudayaan tidak hanya diperkenalkan melalui catatan tertulis, tetapi juga melalui cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Dengan begitu, sejarah lokal dapat disampaikan secara lebih sederhana tanpa menghilangkan makna dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Bagi masyarakat Tidung di Kota Tarakan, upaya tersebut dinilai penting untuk memperkenalkan identitas budaya daerah, mulai dari tradisi adat, kesenian tari, musik tradisional, pakaian adat, hingga berbagai cerita yang berkaitan dengan kehidupan leluhur. Berbagai unsur kebudayaan itu merupakan bagian dari kekayaan lokal yang perlu terus dirawat dan diperkenalkan kepada masyarakat.
Datu Norbeck juga menekankan pentingnya keterlibatan para tokoh adat dan budayawan dalam proses pengumpulan materi. Keterlibatan mereka diperlukan agar cerita yang ditulis tidak sekadar menarik untuk dibaca, tetapi juga memiliki dasar pengetahuan yang kuat dan tetap menghormati nilai-nilai budaya masyarakat setempat.
“Tokoh adat dan pelaku budaya memiliki peran penting dalam menyampaikan pengetahuan yang mereka miliki. Karena itu, kesempatan seperti ini perlu dimanfaatkan untuk menggali cerita dari sumber-sumber yang memahami sejarah dan tradisi daerah, sehingga apa yang ditulis dapat menjadi bahan pembelajaran bagi generasi selanjutnya,” tambahnya.
Selain menjadi sarana pelestarian, lokakarya tersebut juga diharapkan dapat mendorong lahirnya karya literasi yang mengangkat kekhasan budaya Kalimantan Utara. Cerita lokal yang selama ini lebih banyak disampaikan secara lisan dapat diolah menjadi karya tulis, dibukukan, serta dimanfaatkan sebagai bahan bacaan bagi masyarakat dan generasi muda.
Sinergi antara perpustakaan, lembaga pelestarian kebudayaan, komunitas juru cerita, serta tokoh adat dinilai menjadi langkah penting dalam memperluas akses masyarakat terhadap informasi sejarah dan budaya daerah.
Melalui upaya tersebut, Datu Norbeck berharap warisan budaya Tidung dan suku-suku lokal lainnya tidak hanya dikenal dalam kegiatan adat atau festival budaya, tetapi juga hadir dalam bahan bacaan dan cerita yang dapat dipelajari secara berkelanjutan.
Dengan demikian, lokakarya ini diharapkan mampu menjadi salah satu sarana untuk menjaga ingatan kolektif masyarakat, memperkuat identitas budaya lokal, serta memastikan sejarah dan kearifan leluhur tetap hidup di tengah perkembangan zaman.








Discussion about this post