19 Oct 2021
Kaltara

Talkshow FESyar KTI 2021 Sukses Bisnis Halal di Tengah Pandemi

Talkshow FESyar KTI 2021  Sukses Bisnis Halal di Tengah Pandemi

Keterangan Gambar : Foto : Spesial

Pada -  tanggal 27 Juli 2021, KPwBI Provinsi Kalimantan Utara menyelenggarakan talkshow virtual bertajuk “Sukses Bisnis Halal di Tengah Pandemi” yang merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan FESyar KTI 2021 dengan KPwBI Provinsi Gorontalo yang bertindak sebagai host. FESYar KTI 2021 mengangkat tema “Bersinergi Membangun Ekonomi dan Keuangan Syariah untuk Memperkuat Momentum Pemulihan Ekonomi melalui Keunggulan Sumber Daya Regional” yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan FESyar Regional KTI yang akan berlangsung selama 8 (delapan) hari mulai tanggal 27 Juli – 3 Agustus 2021. Kegiatan talkshow ini dibuka oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara, Yufrizal, dan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Corporate Communication PT. Aruna Indonesia, Sarah Ramadhania, serta Founder Jokotole Collection, Uswatun Hasanah, yang bertindak sebagai narasumber.

Dalam sambutannya, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara, Yufrizal memaparkan bahwa ekonomi syariah, khususnya pada sektor pertanian, makanan halal, fashion muslim, dan sektor pariwisata ramah muslim dapat menjadi potensi sumber pertumbuhan baru sebagai penggerak ekonomi. Bank Indonesia telah mengeluarkan Cetak Biru Ekonomi dan Keuangan Syariah sebagai bentuk konsistensi Bank Indonesia dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. “Implementasi cetak biru tersebut oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara (KPwBI Prov. Kaltara) meliputi tiga hal. Pertama, pengembangan halal value chain melalui pelatihan sistem jaminan halal sebagai salah satu syarat untuk mengikuti sertifikasi halal, sosialisasi dan edukasi ekonomi syariah serta QRIS kepada 200 pelaku usaha. Kedua, penguatan kelembagaan melalui pelatihan wirausaha syariah dan literasi keuangan inklusif pondok pesantren binaan, serta berpartisipasi dalam kurasi Industri Kreatif Syariah Indonesia (IKRA). Ketiga, pemberian bantuan infrastruktur pendukung melalui pengembangan program pengelolaan tambak ikan bandeng, pembuatan batako, peternakan ayam, laundry, pengolahan air minum, serta retail minimarket”, ujar Yufrizal. Lanjutnya upaya-upaya tersebut dilakukan oleh KPwBI Prov. Kaltara sebagai bentuk nyata upaya pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, khususnya di wilayah Provinsi Kalimantan Utara.

Lebih lanjut Yufrizal juga menyampaikan tantangan ke depan adalah bagaimana kita dapat melakukan percepatan adaptasi penggunaan digital dalam setiap aktivitas perekonomian, termasuk dalam pengembangan eksyar Indonesia. Selain itu, kita juga perlu terus mendorong penciptaan sumber pertumbuhan dan ekonomi baru, termasuk eksyar, yang diantaranya difokuskan pada sektor pertanian, makanan halal, fashion muslim, dan sektor pariwisata ramah muslim” pungkas Yufrizal. 

Pada kesempatan pertama, Corporate Communication PT. Aruna Indonesia, Sarah Ramadhania menyampaikan upaya Aruna dalam mendorong pengembangan pasar perikanan melalui teknologi digital yang dapat mempertemukan langsung nelayan dan konsumen. “Indonesia memiliki potensi besar pada bidang maritim. Namun, 90% nelayan masih dalam skala kecil dan 25% angka kemiskinan di Indonesia disumbang oleh nelayan. Salah satu masalahnya adalah jaringan rantai pasok yang masih kurang efisien dimana banyak pihak terlibat di dalamnya yang menyebabkan harga pada konsumen sangat tinggi, sedangkan harga yang diterima nelayan sangat rendah”, ujar Sarah.

Mengingat semua makhluk hidup di laut sudah tergolong halal, Aruna juga berkomitmen untuk menjaga kehalalan produknya selama pengiriman. Selain itu, Sarah mengklaim bahwa pendapatan para nelayan meningkat tiga kali lipat melalui Aruna. Meskipun saat ini masih berfokus pada 13 provinsi, Aruna sudah mampu mendorong jual beli sektor perikanan hingga ke berbagai negara di wilayah Amerika, Asia, dan Timur Tengah. “Melalui Aruna, kita bisa memaksimalkan anugerah Tuhan yang diberikan kepada Indonesia, yaitu sektor maritimnya sehingga dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya pada banyak orang, khususnya para nelayan”, pungkas Sarah.

foto : Spesial

Pada kesempatan yang sama, Founder Jokotole Collection, Uswatun Hasanah menjelaskan bahwa bisnis syariah adalah solusi dari permasalahan-permasalahan yang dialami oleh UMKM selama masa pandemi COVID-19. “UMKM adalah sektor yang paling terdampak pada pandemi COVID-19 saat ini. Banyak orang takut keluar rumah, pengeluaran rumah tangga menjadi dibatasi, pola kebiasaan masyarakat yang berubah, banyak karyawan yang dirumahkan, hingga ketidakpastian kapan berahir. Hal-hal itu dapat menyebabkan omzet turun drastis hingga pasar yang lesu”, ucap Uswatun. Pengaplikasian sistem syariah pada UMKM dinilai menjadi salah satu strategi yang baik untuk bertahan menghadapi masalah-masalah tersebut. “Jokotole Collection berkomitmen menggunakan sistem bagi hasil pada keuntungan yang didapat sehingga semua pekerja akan merasa menjadi bagian dari bisnis perusahaan dan akan mengeluarkan kinerja optimalnya”, ujar Uswatun.

Strategi pemasaran juga menjadi aspek penting untuk bisa bertahan di masa pandemi saat ini. Uswatun menggunakan pendekatan psikis dengan konsumen agar dapat menjaga hubungan yang baik dan minat konsumen tersebut pada produk-produk yang ditawarkannya. Upaya tersebut dilakukan dengan melakukan social marketing dan mendonasikan sebagian keuntungan yang didapat kepada masyarakat terdampak COVID-19. Selain itu, produk juga perlu ditawarkan sesering mungkin dengan harga terjangkau saat pandemi saat ini serta dapat diketahui secara online oleh konsumen.

“Paling tidak, agar UMKM dapat bertahan atau bahkan berkembang selama pandemi saat ini, coba terapkan pendekatan psikis baik kepada pegawai internal seperti sharing untuk menemukan solusi bersama maupun kepada konsumen seperti social marketing dan pemanfaatan toko online”, pungkas Uswatun.

Talkshow ini mendapat antusiasme yang tinggi dari para peserta yang mencapai angka 543 peserta. Tingginya animo peserta ini tercermin dari banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh para peserta kepada para narasumber. Tingginya animo peserta juga dapat mencerminkan ketertarikan masyarakat dalam pengembangan ekonomi syariah, khususnya pada pengembangan UMKM syariah. (*)


Kirim Komentar