24 Jun 2024
Nasional

Balai Karantina Pertanian Tarakan Musnahkan 349,47 Komoditi Hewan dan Tumbuhan

Balai Karantina Pertanian Tarakan Musnahkan 349,47 Komoditi Hewan dan Tumbuhan

TARAKAN –Balai Karantina kota Tarakan kembalu musnahkn Sebanyak 349,47 kilogram media pembawa hama penyakit hewan karantina (HPHK), hama penyakit ikan karantina (HPIK) dan organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK), Ikan dan Tumbuhan Kalimantan Utara  pada Kamis (6/6/2024) siang tadi berlokasi di Jalan Mulawarman Kota Tarakan.

Menurutnya, media pembawa yang dimusnahkan dari hasil temuan petugas yang hendak memasukkan ke Kota Tarakan. Ratusan kilogram media pembawa tersebut berasal dari Malaysia tanpa dilengkapi dokumen resmi yang dikeluarkan karantina. Pemusnahan dilakukan dengan cara dibakar dalam mesin pemusnahan yang dimiliki pihak balai. 

Sedangkan untuk rincian pemusnahan di antaranya untuk petugas Karantina Hewan sebanyak 256,97 kg dibawa oleh 37 orang, kemudian karantina tumbuhan sebanyak 91,5 kg dibawa 19 kali pemasukan , dan karantina ikan sebanyak 1 kg. Totalnya mencapai  349,47 kilogram.

Rinciannya lebih detail dari 256,97 kg yang diamankan petugas Balai Karantina terdiri dari daging babi olahan, daging ayam, daging bebek, daging ungags olahan sosis, daging sapi untuk produk hewan. 

Kemudian produk tumbuhan ada bawang putih, bawang merah, sayuran brokoli, sayuran kubis, bibit ejruk, bibit tanaman hias, bibit manga, benih kacang panjang, bibit kelapa sawit, bibit bunga melati, buah-buahan, bibit durian, bibit kelapa dan juga ada keong. 

Dikatakan Obing Hobir Asari, Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Kalimantan Utara usai kegiatan pemusnahan adapun ratusan kg media pembawa hari ini adalah rata-rata tangkapan sepanjang tahun 2023 dan 2024.

“Produk hewan  ada 37 kali penangkapan karena mereka dibawa para penumpang tanpa dilengkapi dokumen dari negara asal,” ujarnya.

Penumpang melalui jalur pelabuhan resmi dan ternyata setelah pemilik diberi waktu selama tiga hari tidak dikembalikan ke negara asal maka dimusnahkan. Rata-rata dari Malaysia Tawau dan dibawa oleh penumpang. Ia lebih lanjut menyampaikan bahwa bahaya dari media pembawa, bahwa sejak 2023 di Malaysia sudah masuk penyakit demam babi atau dikenal  ASF.

 “Ini sangat mematikan. Kita tahu di Tarakan juga ada peternakan babi, sehingga jangan sampai muncul. Itu dikhawatirkan. Karena tanpa dokumen health sertifikat dari negara asal (Malaysia) kita khawatir juga, ada membawa penyakit yang berpotensi buat hewan, tumbuhan ikan atau ada penyakit zoonosis bisa juga berpengaruh kepada manusia,”bebernya.

Ia juga menambahkan begitu juga kelapa, bawang yang dibawa tidak dilengkapi dokumen. Alasan penumpang membawa barang tersebut biasanya untuk oleh-oleh. Dengan efek ditahan dan dimusnahkan, ke depannya mereka yang hendam membawa potensi jadi media pembawa harus melengkapi surat di balai karantina setempat dari daerah atau negara asal.

“Kan menjaga keanekaragaman sumber daya alam dan masyarakat, barangkali ada penyakit kita tidak tahu, yang patogen, apalagi masa inkubasi biasanya 14 hari sudah kejadian baru tahu. Jadi ini upaya preventif pencegahan,” jelasnya.

Ia melanjutkan bahwa Balai Karantina saat ini sudah berubah nomenklatur. Dimana Balai Karantina menjadi badan. Sehingga balai karantina pertanian dan kelautan menyatu menjadi Badan Karantina Indonesia dan di daerah disebut Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Provinsi Kaltara.(*)

Kirim Komentar