Tarakan – Majelis Ulama Indonesia Pusat menyoroti tantangan serius di era digital terkait penyebaran paham radikalisme, khususnya yang menyasar anak-anak di bawah umur melalui berbagai platform media sosial.
Pengurus MUI Pusat bidang penanggulangan ekstremisme, Muhammad Najih, mengungkapkan bahwa anak-anak dan remaja menjadi kelompok yang paling rentan terpapar ideologi radikal karena masih berada pada fase pencarian jati diri. Hal ini diperparah dengan kemudahan akses terhadap berbagai konten di media sosial tanpa filter yang memadai.
Ia menjelaskan bahwa penyebaran paham radikalisme saat ini tidak hanya melalui ceramah langsung, tetapi juga melalui konten digital, termasuk video, forum online, hingga permainan daring. Bahkan, dalam beberapa kasus, paparan radikalisme bisa berawal dari aktivitas sederhana seperti bermain game online atau mengikuti komunitas di dunia maya.
“Anak-anak saat ini sangat mudah terpapar karena akses terhadap media sosial begitu luas. Bahkan dari tontonan hingga interaksi di game online bisa menjadi pintu masuk penyebaran ideologi radikal,” ujar Muhammad Najih.
Menurutnya, meskipun pemerintah telah mengeluarkan aturan terkait pembatasan penggunaan media sosial bagi anak di bawah umur, peran orang tua tetap menjadi kunci utama dalam pengawasan. Orang tua diharapkan tidak hanya membatasi, tetapi juga memahami aktivitas digital anak secara menyeluruh.
“Pengawasan orang tua sangat penting. Orang tua harus mengetahui apa yang ditonton, dimainkan, hingga dengan siapa anak berinteraksi di dunia digital, termasuk dalam game seperti PUBG dan Roblox,” tambah Muhammad Najih.
Ia juga menekankan bahwa tren rekrutmen kelompok radikal kini telah bergeser, di mana anak muda dan bahkan anak-anak menjadi target utama karena dinilai lebih mudah dipengaruhi melalui narasi yang disebarkan di internet.
MUI Pusat pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama meningkatkan literasi digital serta memperkuat peran keluarga dalam membentengi anak dari pengaruh negatif dunia maya. (RF)








Discussion about this post